Tpd9BSW5TUzlBSd5GUAlGfr6Td==
Breaking
News

80 Tahun Merdeka, Bara Revolusi Mulai Menyala

Font size
Print 0
.                                     Oleh Pajar Saragih
80 Tahun Merdeka, Bara Revolusi Mulai Menyala



Riau, Tribuntujuwali.com
Tujuh belas Agustus 2025, delapan puluh tahun sejak bangsa ini mengusir penjajah. Tapi apa yang tersisa dari kemerdekaan itu? Rakyat masih dijajah, bukan oleh bendera asing, tapi oleh tangan-tangan berlumur emas dan darah dari anak bangsanya sendiri.

Di bawah langit merah senja, rakyat berbaris bukan untuk upacara, tapi untuk menuntut hak yang dirampas. Bendera Merah Putih berkibar tinggi, namun di bawahnya, bendera hitam bertengkorak ikut menari di angin—tanda bahwa kesabaran telah habis. Di setiap pelosok negeri, bisik-bisik tentang perlawanan mulai terdengar. Ini bukan lagi riak kecil,ini gelombang yang siap menghantam istana.

Para penguasa di singgasana mentereng lupa bahwa kursi mereka berdiri di atas tulang belulang rakyat. Mereka bersulang di meja makan berlapis emas, sementara di luar pagar istana, rakyat mengganjal perut dengan air hujan dan singkong busuk. Pajak menjadi cambuk, regulasi menjadi belenggu, dan hukum menjadi anjing penjaga yang hanya menggonggong untuk majikannya.

Bung Karno pernah mengingatkan, “Revolusi belum selesai.” Dan hari ini, kata-kata itu menggema kembali. Di jalanan, di pasar, di sawah, bahkan di lorong-lorong kumuh, rakyat mulai mengucapkannya lagi,dengan nada yang bukan sekadar kenangan sejarah, tapi janji untuk bergerak.

Para tikus politik dan bandit berseragam harus sadar: roda sejarah selalu berputar. Darah rakyat yang kalian hisap hari ini bisa menjadi gelombang merah yang akan meruntuhkan tembok istana besok. Api kecil yang kalian anggap sepele bisa menjadi kobaran yang membakar seluruh simbol kekuasaan.

Inilah kado HUT RI ke-80: negeri ini berada di tepi jurang, dan di bawahnya ada bara revolusi yang siap menyala. Jika penguasa terus tuli dan bisu, rakyat akan mengambil kembali haknya, bukan lewat surat suara, tapi lewat suara-suara yang menggema di jalanan - suara yang pernah mengguncang dunia di tahun 1945.

Merdeka bukanlah hadiah,ia adalah hak yang harus direbut kembali. Dan kali ini, rakyat siap mengibarkan Merah Putih di atas puing-puing kesombongan penguasa. (*)
80 Tahun Merdeka, Bara Revolusi Mulai Menyala
Check Also
Next Post

0Comments

Special Ads
Link copied successfully