Tpd9BSW5TUzlBSd5GUAlGfr6Td==
Breaking
News

Tragedi Rp 682 Miliar: Saat Pabrik Senior Tak Lagi Sanggup Menopang Beban Energi

Font size
Print 0
Tragedi Rp 682 Miliar: Saat Pabrik Senior Tak Lagi Sanggup Menopang Beban Energi

Cikampek, Tribuntujuwali. Com
15 Februari 2026. Beban biaya energi kembali menghantui industri pupuk nasional. Sepanjang 2024, konsumsi gas bumi di PT Pupuk Kujang Cikampek tercatat melonjak hingga Rp 682,82 miliar. Kenaikan signifikan ini bukan sekadar angka di atas kertas—ia menjadi sinyal keras atas rapuhnya struktur biaya produksi dan ancaman nyata terhadap keberlanjutan operasional pabrik.

Gas bumi merupakan urat nadi industri pupuk. Lebih dari sekadar bahan bakar, gas adalah bahan baku utama dalam proses produksi amonia dan urea. Ketika biaya gas melonjak, struktur ongkos produksi langsung terdorong naik, menekan margin, dan mempersempit ruang gerak perusahaan.

Sorotan tajam kini mengarah pada Pabrik Kujang 1A, unit produksi senior yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung kapasitas pabrik di Cikampek. Dengan usia instalasi yang tidak lagi muda dan efisiensi yang kalah dibanding teknologi generasi terbaru, beban biaya gas yang membengkak berpotensi membuat operasionalnya tidak lagi ekonomis.

Jika tekanan biaya terus berlangsung tanpa skema kompensasi atau kebijakan harga gas yang lebih kompetitif, risiko penghentian operasi Kujang 1A bukan sekadar wacana. Penghentian itu akan berdampak berantai:

Penurunan kapasitas produksi pupuk nasional

Ketergantungan lebih besar pada impor

Tekanan terhadap ketahanan pangan

Potensi implikasi terhadap tenaga kerja dan ekosistem industri sekitar

Di tengah agenda swasembada pangan dan penguatan industri strategis, kondisi ini menjadi alarm serius. Industri pupuk adalah fondasi sektor pertanian. Ketika fondasi ini diguncang lonjakan biaya energi, dampaknya merambat hingga ke petani dan stabilitas harga pangan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah beban biaya ini berat—melainkan seberapa cepat solusi dihadirkan. Tanpa kebijakan gas industri yang berpihak pada daya saing manufaktur strategis, pabrik-pabrik lama berisiko tersisih oleh tekanan biaya yang tak terkendali.

Lonjakan Rp 682,82 miliar ini bukan sekadar statistik tahunan. Ia adalah peringatan keras: tanpa intervensi konkret, sejarah panjang produksi pupuk di Cikampek bisa memasuki babak baru—babak efisiensi ekstrem, atau bahkan penghentian operasi.
(red Public/Prima*) 
Tragedi Rp 682 Miliar: Saat Pabrik Senior Tak Lagi Sanggup Menopang Beban Energi
Check Also
Next Post

0Comments

Special Ads
Link copied successfully