DENPASAR, Tribuntujuwali. Com
Dewan Pengurus Daerah (DPD) PEPABRI Bali menegaskan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama melalui rangkaian ritual tradisi keagamaan di Aula Kantor DPD PEPABRI, Jalan PB Sudirman, Denpasar, Sabtu, 11 April 2026.
Kegiatan ini menggabungkan tiga momentum keagamaan sekaligus, yakni Dharma Shanti Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Halal Bihalal Idulfitri 1 Syawal 1447 H, serta perayaan Paskah.
Acara tersebut menjadi ruang mempererat silaturahmi dan memperkuat kerukunan antar anggota serta lintas umat beragama.
Ketua DPD PEPABRI Bali, Brigjen TNI (Purn) Ketut Budiastawa S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga sarana membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya toleransi.
"Kegiatan Dharma Shanti, Halalbihalal Idul Fitri dan Paskah merupakan upacara keagamaan dalam rangka memperingati Nyepi tahun baru Saka 1948 di isi dengan ritual-ritual keagamaan," paparnya.
Ia menambahkan, momentum Idulfitri menjadi sarana mempererat hubungan sosial melalui saling memaafkan, sementara Paskah diisi dengan kegiatan keagamaan dan hiburan musik yang memperkuat kebersamaan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan nilai-nilai ajaran Hindu yang menekankan keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan Tuhan. Praktik Tapa Brata saat Nyepi, seperti amati geni, amati karya, amati lila, dan amati manda, menjadi sarana mencapai kedamaian batin.
Ia juga memaparkan makna kebebasan spiritual dalam tiga agama besar. Dalam Hindu, kebebasan menuju Moksa sebagai pelepasan dari siklus Samsara. Dalam Islam, kebebasan menuju Surga dengan meraih ridho Allah. Sementara dalam Kristen, kebebasan menuju kehidupan kekal penuh kasih dan damai bersama Tuhan.
Sementara itu, Danrem 163/Wirasatya yang diwakili Kasiter Kolonel Inf TNI Didin Nasrudin Darsono S.Sos., M.Han., menekankan bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia.
"Dari persatuan, kerukunan dan keakraban antar umat beragama kekuatan itu muncul, namun kekuatan tersebut bukan sekedar finansial dalam meraih kemerdekaan Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada aspek militer, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
"Dalam pertahanan negara bukan siapa yang kuat dan siapa yang besar, tetapi siapa yang cepat bisa mengakses perubahan, siapa cepat itu yang menang," pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut, tokoh Bimbingan Mental (Bintal) dari agama Hindu, Islam, dan Kristen turut menyoroti pentingnya halal bihalal sebagai tradisi yang mampu memperkuat toleransi lintas umat beragama di Indonesia.
Acara berlangsung hangat dengan rangkaian kegiatan seperti saling bersalaman, kocokan arisan, serta pembagian bingkisan hadiah yang semakin mempererat kebersamaan antaranggota PEPABRI se-Bali. (red).
0Comments