MUARA ENIM, Tribuntujwali. Com
16/6/2026. Proyek megah berskala nasional yang menelan anggaran negara miliaran rupiah kembali menuai sorotan tajam. Bukannya membawa berkah, operasional Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Desa Tanjung Kemala, Kecamatan Lubai Ilir, Kabupaten Muara Enim, kini justru dituding menjadi biang keladi pencemaran lingkungan.
Limbah dari dapur pemenuhan gizi tersebut ditemukan berserakan dan mengotori aliran sungai di sekitar Jembatan 2. Praktik kotor ini diduga kuat sengaja dilakukan oleh oknum pengelola demi memangkas biaya operasional atau akibat fatal dari tidak adanya sistem pengelolaan limbah yang berstandar.
Ironisnya, aktivitas pembuangan sampah ke sungai ini bukan lagi rahasia. Warga setempat kerap memergoki langsung aksi tidak terpuji tersebut.
"Masyarakat sudah sering melihat aktivitas itu. Bahkan pernah ditegur langsung oleh salah satu warga yang melihat oknum dapur MBG membuang sampah di sungai tersebut," ungkap seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
LIPERNAS Desak BGN Tutup Dapur Bermasalah: "Anggaran Miliaran, IPAL Saja Tidak Ada!"
Kondisi miris ini memantik reaksi keras dari DPC Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Lingkungan dan Hutan Nasional (LIPERNAS) Kabupaten Muara Enim. Ketua LIPERNAS PD Muara Enim, Rusmin, mengecam keras lemahnya pengawasan dari Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pemegang otoritas program.
"Sangat memalukan dan disayangkan. Anggaran miliaran rupiah digelontorkan untuk pengadaan dapur SPPG/MBG, tetapi fasilitas dasar seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan manajemen pembuangan sampah justru tidak ada. Ini adalah kelalaian fatal," cecar Rusmin dalam pernyataan resminya.
LIPERNAS mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tingkat kabupaten maupun provinsi untuk segera melakukan tindakan hukum konkret. Mereka juga meminta Kepala BGN mengambil langkah ekstrem dengan menutup dapur tersebut jika terbukti abai terhadap AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
"Kami mendesak BGN provinsi dan kabupaten segera menindaklanjuti kasus ini. Pembuangan limbah ke sungai ini mengancam kesehatan masyarakat. Kami tidak akan tinggal diam, dalam waktu dekat pengurus LIPERNAS akan melaporkan pelanggaran lingkungan ini secara resmi ke DLH," tegas Rusmin.
Borok Pengelolaan Sampah Terbongkar: Setor Rp150 Ribu per Hari ke Oknum Kadus
Di balik pencemaran ini, sebuah fakta mengejutkan mengenai carut-marut tata kelola internal dapur MBG akhirnya terbongkar. Saat dikonfirmasi oleh Ketua LIPERNAS, pihak pengelola dapur MBG Desa Tanjung Kemala mengakui secara blak-blakan bahwa sampah yang mencemari sungai tersebut berasal dari fasilitas mereka.
Namun, pengelola mengklaim mereka adalah korban dari sistem yang mereka percayai. Untuk urusan sampah, mereka mengaku telah menjalin kemitraan dan membayar upeti harian kepada oknum Kepala Dusun (Kadus) setempat dengan kesepakatan sampah akan dibuang ke Tempat Pembuangan Umum (TPU) milik sang Kadus.
"Kami membayar uang Rp150.000 per hari kepada Pak Kadus untuk mengangkut dan mengelola sampah limbah dari dapur MBG ini," aku pengelola.
Mendapati kenyataan bahwa limbah harian yang telah mereka bayar mahal justru ditenggelamkan ke sungai oleh pihak ketiga, Pak Kris dan Pak Sailin selaku mitra resmi BGN mengekspresikan kekecewaan mendalam. Mereka merasa dikhianati oleh oknum aparatur desa yang seharusnya menjadi garda terdepan menjaga lingkungan.
"Kami sangat kecewa atas kerja sama yang telah dibuat dengan Pak Kadus. Komitmen kami jelas, kami bayar agar sampah dikelola dengan benar, bukan dirusak seperti ini," ujar mereka dengan nada getir.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak Kepala Dusun yang bersangkutan belum memberikan keterangan resmi terkait aliran dana Rp150 ribu per hari serta tuduhan pembuangan sampah ke sungai jembatan 2 tersebut. Publik kini menunggu ketegasan BGN dan Dinas Lingkungan Hidup: Apakah aturan hukum lingkungan akan ditegakkan, ataukah proyek miliaran rupiah ini diberi imunitas untuk terus mengotori sungai rakyat? (Red/Tim)
0Comments