SUMEDANG, tribuntujuwali.com
Potret kehidupan warga kurang mampu kembali terlihat di Kabupaten Sumedang. Sebuah rumah tidak layak huni milik Abun Carli, warga Dusun Cirendang RT 010/RW 004, Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, kondisinya memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius.
Berdasarkan hasil pantauan tim Forum Media Sumedang Timur (FMST) di lokasi, Sabtu (2/10/2026), rumah panggung yang dihuni Abun bersama anak, menantu, serta dua cucunya tersebut tampak sudah rapuh dimakan usia. Dinding kayu berlubang, atap bocor, hingga rangka bangunan yang mulai lapuk menjadi gambaran nyata kondisi tempat tinggal keluarga ini.
Saat musim hujan tiba, air kerap masuk ke dalam rumah akibat atap yang bocor. Kondisi ini tentu sangat mengganggu kenyamanan dan keselamatan penghuni, terutama anak-anak.
Terkendala Biaya Tambahan
Kepala Desa Jembarwangi, Pitriani Dewi, menjelaskan bahwa rumah milik Abun sebenarnya sudah beberapa kali masuk dalam perencanaan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Dana Desa.
Namun, realisasi bantuan tersebut belum dapat dilakukan karena keterbatasan kesiapan dari pihak keluarga.
“Rumah Pak Abun sudah dianggarkan dalam program Rutilahu. Tapi karena keterbatasan anggaran dan perlu adanya kesiapan dari keluarga penerima, sampai saat ini belum bisa direalisasikan. Bahkan sudah sekitar tiga tahun dianggarkan,” ujar Dewi.
Di sisi lain, Abun Carli mengakui bahwa dirinya pernah beberapa kali ditawari bantuan Rutilahu dengan nominal sekitar Rp10 juta. Namun bantuan tersebut belum bisa dimanfaatkan karena membutuhkan biaya tambahan yang tidak mampu ia penuhi.
“Memang pernah ditawari bantuan, tapi kami tidak punya biaya tambahan untuk melengkapi pembangunan. Jadi belum bisa dikerjakan,” ungkap Abun.
Bertahan dengan Penghasilan Kuli Tani
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Abun mengandalkan pekerjaan sebagai kuli tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi ekonomi inilah yang membuat keluarga tersebut kesulitan untuk menambah biaya pembangunan rumah.
Anak Abun juga mengeluhkan kondisi rumah yang semakin memburuk, terutama saat hujan turun.
“Kalau hujan pasti bocor, kadang air masuk ke dalam rumah,” keluhnya.
Butuh Sinergi dan Kepedulian
Kondisi ini menjadi gambaran bahwa program bantuan seperti Rutilahu memang sangat membantu, namun di lapangan masih terdapat kendala, terutama bagi warga yang benar-benar tidak memiliki kemampuan finansial untuk menambah biaya pembangunan.
Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta pihak lain seperti donatur atau program sosial agar bantuan tersebut dapat benar-benar dirasakan oleh warga yang paling membutuhkan.
Dengan kondisi rumah yang sudah tidak layak dan berpotensi membahayakan keselamatan, keluarga Abun berharap ada solusi nyata agar mereka bisa memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
(Red)